Kamis, 03 Agustus 2017

Rumah Adat Sulawesi Tengah


Provinsi Sulawesi Tengah beribukota Palu. Luas dataran wilayah Propinsi Sulawesi Tengah adalah 68.033 Km persegi atau lebih kurang 3,54 persen dari luas Indonesia.

Rumah adat merupakan salah satu representasi kebudayaan yang paling tinggi dalam sebuah komunitas suku/masyarakat. Keberadaan rumah adat di Indonesia sangat beragam dan mempunyai arti yang penting dalam perspektif sejarah, warisan, dan kemajuan masyarakat dalam sebuah peradaban.

Rumah Adat Souraja (Banua Mbaso)

Rumah Adat Souraja (Banua Mbaso) - https://oseaka.blogspot.com

Berbeda dengan Tambi yang diperuntukan bagi penduduk pada umumnnya, Di Sulawesi Tengah Banua Mbaso atau disebut juga Souraja merupakan rumah tradisional tempat tinggal turun temurun bagi keluarga bangsawan. Souraja pertama kali dibangun oleh Raja Palu, Jodjokodi, pada tahun 1892. Souraja yang pertama kali dibuat terebut, masih bisa dilihat pada saat ini. Kata Souraja (Sou Raja) dapat diartikan rumah besar, merupakan pusat pemerintahan kerajaan masa lampau, bisa dikatakan sebagai rumah tugas dari manggan atau raja. Selama bertugas, raja beserta keluarganya tinggal di sini.

Bangunan Banua Oge atau Sou Raja adalah bangunan panggung yang memakai konstruksi dari kayu dan dengan paduan arsitektur bugis dan kaili. Luas keseluruhan Banua Oge atau Sou Raja adalah 32x11,5 meter. Tiang pada bangunan induk berjumlah 28 buah dan bagian dapur 8 buah.

Bangunan Induk sendiri berukuran 11,5 x 24,30 meter, yeng terbagi atas 4 bagian yaitu :

Skema ruangan Rumah Adat Souraja (https://kakarmand.blogspot.com)

a. Gandaria (Serambi)

Gandaria (Serambi) - https://kakarmand.blogspot.com

Berfungsi sebagai tempat ruang tunggu untuk tamu. Dibagian depan terletak anjungan sebagai tempat bertumpuhnya tanggah yang terdiri dari 9 anak tanggah dengan posisi saling berhadapan. (Lihat pada gambar).

b. Lonta Karavana (Ruang Depan)

Lonta Karavana (Ruang Depan) - https://kakarmand.blogspot.com

Ruangan ini digunakan sebagai tempat penerimaan tamu untuk kaum laki-laki dalam pelaksanaan upacara adat. Selain itu Ruangan ini juga digunakan sebagai tempat tidur bagi kaum laki-laki.

c. Lonta Tatangana (Ruang Tengah)

Lonta tatangana dibagi atas tiga buah ruang yaitu :

- Toda (Ruang tamu)

(https://kakarmand.blogspot.com)

Berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan temapat musyawarah raja bersama dewan adat.

- Ruang tidur magau palu (raja)

Ruang tidur Magau Palu (raja) - https://kakarmand.blogspot.com

Merupakan tempat tidur untuk raja dimana terdapat dua buah pintu. Pintu-pintu tersebut dari arah luar dan dari arah ruang tamu. Ruangan ini juga memiliki dua buah jendela.

- Ruang tidur keluarga magau

Merupakan tempat tidur untuk keluarga magau dimana terdapat 2 buah pintu dari arah ruang tamu dan yang menghubungkan ke ruang tidur magau
d. Lonta Rarana (Ruang Belakang)

Ruangan ini dugunakan sebagai tempat makan untuk Raja beserta keluarga. Diruangan ini juga terdapat kamar untuk wanita dan para anak gadis. Selain itu ruangan ini juga digunakan untuk menerima kerabat dekat.

Untuk avu (dapur), sumur dan jamban, dibuatkan bangunan tambahan yang terletak di belakang bangunan utama. Untuk menghubungkan bangunan induk dengan ruang dapur tersebut dibuatkan jembatan beratap yang disebut dengan hambate atau dalam bahasa Bugis disebut jongke.

Souraja berbentuk rumah panggung yang ditopang sejumlah tiang balok dari kayu ulin, bayan, atau kayu besi yang terkenal keras. Atapnya berbentuk prisma yang dihiasi dengan ukiran-ukiran yang disebut panapiri, dan pada ujung bubungan bagian depan dan belakang diletakkan mahkota berukir disebut bangko-bangko.

Terdapat banyak kaligrafi huruf Arab pada pintu atau jendela, atau ukiran pompeninie pada dinding, loteng, pinggiran cucuran atap, bangko-bangko dengan motif bunga-bungaan dan daun-daunan. Serupa dengan ukiran-ukiran yang berada di Tambi, motif-motif hiasan tersebut melambangkan kesuburan, kemuliaan, keramah-tamahan dan kesejahteraan.

Rumah Adat Lobo

Rumah Adat Lobo (https://kakarmand.blogspot.com)

Bangunan diatas tiang yang memanjang itu aslinya digunakan sebagai balai pertemuan dan pengadilan adat. Beberapa lukisan yang dipajang di depannya merupakan penggambaran sangsi atas pelanggaran dan lambing kesuburan. Seluruh ruangan lobo di ruangan ini dimanfaatkan sebagai tempat untuk memamerkan hasil kekayaan alam dan kerajinannya. Disini dapt disaksikan contoh kayu hitam, hasil tambang, hasil kerajinan tangan dan contoh pakaian-pakaian adat dari berbagai suku di propinsi tersebut. Bahan dan peralatan yang digunakan untuk membuat kain tenun juga dapat diasksikan disana seperti pembuatan kain tenun donggala yang dibuat menggunakan kulit kayu.

Rumah Adat Tambi

Rumah Adat Tambi (https://kebudayaanindonesia.net)

Di Sulawesi Tengah, tempat tinggal penduduk disebut Tambi. Rumah ini merupakan tempat tinggal untuk semua golongan masyarakat. Bentuk rumah ini segi persegi panjang dengan ukuran rata-rata 7x5 m2, menghadap ke arah utara-selatan, karena tidak boleh menghadap atau membelakangi arah matahari. Sekilas konstuksi rumah ini seperti jamur berbentuk prisma yang terbuat dari daun rumbia atau ijuk. Keunikan rumah panggung ini adalah atapnya yang juga berfungsi sebagai dinding. Alas rumah tersebut terdiri dari susunan balok kayu, sedangkan pondasinya terbuat dari batu alam. Akses masuk ke rumah ini melalui tangga, jumlahnya berbeda sesuai tinggi rumahnya. Tambi yang digunakan masyarakat biasa memiliki anak tangga berjumlah ganjil dan untuk ketua adat berjumlah genap.

Tiang-tiang penopang rumah ini terbuat dari kayu bonati. Di dalamnya hanya terdapat satu lobona (ruangan utama) yang dibagi tanpa sekat dan memiliki kamar-kamar, hanya pada bagian tengah lobona terdapat rapu (dapur) yang sekaligus menjadi penghangat ruangan ketika cuaca dingin. Penghuninya tidur menggunakan tempat tidur yang terbuat dari kulit kayu nunu (beringin).

Di sekeliling dinding rumah ini membentang asari (para-para) yang serbaguna, bisa dijadikan tempat tidur yang berpembatas, tempat penyimpanan benda pusaka atau benda-benda berharga lainnya.

Sebagai hiasan, biasanya rumah ini memiliki ukiran di bagian pintu dan dindingnya. Motif ukiran tersebut terutama berbentuk binatang atau tumbuh-tumbuhan. Terdiri atas ukiran pebaula (kepala kerbau) dan bati (ukiran berbentuk kepala kerbau, ayam dan babi). Pebaula meurpakan simbol kekayaan, dan bati merupakan simbol kesejahteraan dan kesuburan.

Pada motif tumbuhan (pompininie) biasanya terbuat dari beragam kain kulit kayu berwarna-warni, dibentuk menjadi motif bunga-bunga yang kemudian diikat dengan rotan. Kain kulit kayu ini merupakan hasil tenunan tradisional dari kulit kayu nunu dan ivo. Konon, pompeninie ini memiliki kekuatan magis yang dapat menangkal gangguan roh jahat.

Karena Tambi hanya memiliki satu ruang utama, maka ia memiliki bangunan tambahan yang tidak dapat dipisahkan, yaitu Buho (terkadang disebut gampiri). Bangunan yang memiliki dua lantai ini, berfungsi sebagai tempat musyawarah atau menerima tamu (lantai bawah), dan sebagai lumbung padi (lantai atas). Karena fungsinya sebagai tempat menerimatamu, maka letaknya tak jauh dari Tambi.

Bangunan lainnya yang sangat sederhana disebut Pointua, yaitu tempat menumbuk padi, dimana terdapat lesung yang disebut iso berbentuk segi empat panjang bertiang 4 buah dan kadang-kadang terdapat pula lesung bundar yang disebut iso busa.

Informasi lebih lanjut hubungi

Peta TMII (https://id.wikipedia.org)
sumber:http://wisata-indonesia-elipl.blogspot.co.id/2014/11/rumah-adat-sulawesi-tengah.html


Alat Musik Tradisional Provinsi Sulawesi Tengah

Sulawesi Tengah adalah sebuah provinsi di bagian tengah Pulau Sulawesi, Indonesia. Ibu kota provinsi ini adalah Kota Palu. Luas wilayahnya 61.841,29 km², dan jumlah penduduknya 2.831.283 jiwa (2014). Sulawesi Tengah memiliki wilayah terluas di antara semua provinsi di Pulau Sulawesi, dan memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di Pulau Sulawesi setelah provinsi Sulawesi Selatan.

Musik dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrumen seperti gong, kakula, lalove dan jimbe. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan. Di wilayah beretnis Kaili sekitar pantai barat - waino - musik tradisional - ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival.

Berikut ini daftar nama-nama Alat Musik Tradisional Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) terdiri dari: Ganda / Kanda, Geso-Geso, Gimba, Lalove, Paree, Popondo, Santu, Talindo, Tatali, Tutuba, Yori


Ganda / Kanda

Ganda / Kanda
Ganda / Kanda
Ganda atau juga disebut dengan nama “Kanda” adalah alat musik tradisional Sulawesi. Alat musik ini merupakan jenis alat musik pukul seperti gendang namun berukuran lebih kecil dan lebih ramping dibanding dengan Gendang Jawa. Ganda ini juga memiliki bunyi yang hampir sama dengan gendang kecil yang berasal dari provinsi lainnya. Cara memainkannya cukup dengan memukul bagian kulit di ujung kayunya saja.


Geso-geso
Geso-geso
Geso-Geso

Geso-geso adalah sejenis alat musik gesek. Alat musik yang berasal dari Sulawesi Tengah ini sama halnya dengan tutuba dan tatali, geso-geso merupakan alat musik khas suku To Wana. Akan tetapi ada pula alat musik serupa yang dipergunakan oleh masyarakat toraja atau tepanya di Kecamatan Saluputti.

Geso-geso terbuat dari kayu dan tempurung kelapa yang diberi dawai. Cara membunyikannnya adalah dengan menggesek dawai dengan alat khusus yang terbuat dari bilah bambu dan tali  sehingga menimbulkan suara khas. Alat ini mengeluarkan nada sesuai dengan tekanan jari si pemain pada dawai.


Gimba

Gimba
Gimba
Gimba atau gendang berbentuk bulat dan panjang, alat musik ini terbuat dari kayu, kulit Anoa atau kulit sapi atau kulit kerbau dan rotan. Alat musik ini digunakan untuk mengiringi tari-tarian pada upacara Balia, dan juga sering digunakan untuk pertandingan atau latihan pencak silat. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan, ada pula yang dipukul menggunakan alat pemukul yang terbuat dari kayu atau rotan. Kedua tangan yang memukul Gimba saling berbalasan dan bervariasi sehingga menimbulkan suara yang berirama sesuai gerakan tarian.

Alat kesenian gimba ini, pada Kecamatan lain di Kabupaten Donggala disebut pula gimba dan ada juga menamakan ganda-ganda tapi bentuknya lebih kecil. Tidak ada keterangan yang jelas karena tidak diketahui secara pasti apa arti sebenarnya dari gimba tersebut. Orang hanya mengetahui bahwa kebenaran nama itu, sejak mulanya bernama gimba. Jenis gimba bermacam-macam ada yang besar dan ada yang kecil masing-masing mempunyai fungsi tertentu.
Lalove

Lalove
Lalove
Lalove adalah alat kesenian jenis tiup (suling) yang awalnya berfungsi sebagai alat pengiring Tarian Tradisional Balia disamping alat lain seperti gendang. Tari tradisional yang di sebut Balia, merupakan ritual penyembuhan pada suku Kaili di Sulawesi Tengah.  Pada mulanya Lalove ini tidak boleh sembarangan ditiup, sebab bagi orang-orang yang biasa kerasukan roh,jika mendengar suara Lalove maka dengan spontan orang tersebut akan kerasukan.  Itulah sebabnya pada awalnya lalove tersebut tidak bisa sembarang orang yang meniupnya, sebatas pada orang-orang tertentu dan di sebut bule.


Paree

Paree
Paree
Paree adalah Alat musik tradisional yang terbuat dari bambu berfungsi sebagai alat hiburan diwaktu senggang dan dapat pula digunakan sebagai alat perkenalan atau pergaulan antar anggota kelompok masyarakat. Alat musik ini biasanya berwarna kecoklatan sesuai dengan warna bambu yang sudah kering. Alat musik ini terbuat dari bahan buluh tui dan rotan.

Alat ini dapat dimainkan dengan cara berdiri maupun duduk. Paree dimainkan dengan cara dipukul-pukulkan pada telapak tangan kanan ataupun kiri.


Popondo

Popondo
Popondo
Popondo yang merupakan Alat musik Sulteng juga disebut dengan Talindo atau Popondi (Sulsel). Popondo ini terbuat dari kayu, tempurung kelapa, dan senar. Popondi merupakan alat musik jenis sitar berdawai satu (one stringed stick zilher). Tempurung kelapa berfungsi sebagai resonator. Alat musik ini dimainkan secara tunggal setelah para petani merayakan pesta panen dan untuk mengisi waktu senggang bagi para remaja.

Kata Tolindo adalah sebutan yang berasal dari daerah Bugis. Sedangkan kata Popondi adalah sebutan dari daerah Makasar.

Alat musik tradisional Talindo / Popondi berbentuk busur seperti tanduk kerbau atau tanduk sapi yang bertumpu pada sebuah tempurung kelapa, di ujungnya atas bagian tanduk dipasang 1 buah senar dan dimainkan dengan cara dipetik.

Biasanya alat musik ini dimainkan secara tunggal setelah para petani merayakan pesta panen dan untuk mengisi waktu senggang bagi para remaja.


Santu

Santu
Santu
Santu merupakan alat musik tradisional jenis sitar tabung yang termasuk dalam kelompok idio-kodofon. Kulit ari pada bagian badan bambu dibentuk empat dan di tengah badan dibuat lubang sebagai resonator. Alat musik Santu dimainkan dengan cara dipetik setelah para petani merayakan pesta panen dan saat mengisi waktu senggang bagi para remaja.

Alat musik ini terbuat dari kayu, bambu, dan rotan dan berbentuk bulat panjang (bentuk bambu). Alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik atau dipukul dalam posisi duduk bersila. Tangan kiri memegang alat pada bagian tengah dengan posisi miring atau ditidurkan diatas kaki (paha) dan tangan kanan memetiknya, atau dipukul-pukul dengan kayu bulat yang kecil.


Tatali

Talali adalah alat musik tiup yang terbuat dari bambu berukuran sekitar 50 cm dengan diameter 2 cm dan memiliki 3 lubang untuk resolusi udara tempat meletakan jari dan hanya memiliki 3 nada. Dengan teknik meniup menggunakan perasaan untuk menemukan suara yang baik dan enak ditelinga.

Tatali adalah alat musik tiup (suling) yang merupakan alat musik tradisional khas suku To Wana di Sulawesi Tengah.


Tutuba

Tutuba merupakan alat musik tradisional Sulawesi Tengah berupa alat musik berdawai yang terbuat dari bambu. Tutuba adalah alat musik khas suku To Wana.


Yori

Yori
Yori
Yori adalah alat musik yang terbuat dari bambu sejenis harpa mulut. Bagian lidah-lidah di tengah yori berfungsi sebagai vibrator, rongga mulut berperan sebagai resonator, sedangkan tali pada alat tersebut berfungsi sebagai pengatur nada. Alat musik ini dimainkan saat melihat gerhana bulan atau gerhana matahari pada masyarakat suku bangsa Kulawi.
sumber:https://semuatentangprovinsi.blogspot.com/2016/07/alat-musik-tradisional-provinsi-sulawesi-tengah.html

Makanan Khas Sulawesi Tengah


sop kaledo

sop kaledo khas sulawesi tengah
Sumber : http://ariffadlillah.com/

Makanan tradisional khas Sulawesi Tengah yang pertama adalah kaledo, kamu tahu enggak apa itu kaledo? Kaledo menjadi makanan faforit yang berasal dari Kota Palu yang semakin kesini peminatnya semakin bertambah.
Dimana Kota Palu sendiri adalah Ibu Kota dari Provinsi Sulawesi Tengah, kaledo termasuk kedalam jenis sop dimana sop ini dibuat atau dicampur dengan bumbu racik yang mampu membuat sop kaledo terasa segar, nikmat dan pastinya wuenak.
Daging sapi menjadi bahan utama pembuatan sop kaledo ini, daging sapi ini diolah menggunakan bummbu racikan khas masyarakat Palu. Bumbu yang dibuat akan meresap ke sop kaledo yang akhirnya menciptakan sebuah cita rasa yang muantap.

Kuliner Khas Sulawesi Tengah, Onyop

Kuliner Khas Sulawesi Tengah
Sumber : http://www.xplorcentsi.com/
Pernah dengar makanan dengan nama onyop ? Nah, onyob ini adalah nama suatu makanan yang menjadi ciri khas Sulawesi Tengah. Makanan khas Sulawesi Tengah ini (onyop) hamir sama dengan jenangan (makaanan yang popular di Jawa, khususnya Jawa Timur).
Onyob berbahan dasar sagu, dengan bentuk yang teak beraturan dan memiliki tekstur kenyal, penyajian untuk kuliner khas Sulawesi Selatan ini dengan cara di campur menggunakan kuah ikan yang terdapat rasa asam. Di Jawa sendiri jenang biasanya dijadikan sarapan sebelum beraktifitas seharian.
Onuop sendiri popular di daerah Luwuk yang teradapat di Sulawesi Tengah, sebenarnya onyop dan kuah asem adalah dua kuliner yang berbeda, namun dalam penyajian agar rasa yang dihasilkan juga lebih bervariasi, jadi setiap kamu beli onyop kamu juga pasti menjdapai kuah asem.

Lalampa Khas Sulawesi Tengah

Lalampa Khas Sulawesi Tengah
Sumber : http://kooliner.com/
Lalapa masuk kedalam makanan Khas Sulawesi Utara, namun lalapa juga popular di Sulawesi Tengah, sebenarnya makanan lalapa ini termasuk kedalam makanan jenis ringan, dan yang paling terkenal adalah palapa dari Manado, Sulawesi Utara.
Di Sulawesi Tengah juga palapa tidak kalah popular, makanan yang terbuat dari beras dengan ini ikan cakalang ini mipir dengan lemper yang mungkin lebih kita kenal. Palapa di bungkus menggunakan daun pisang yang sebelumnya telah di bakar terlebih dahulu.
Itulah yang membedakan lemper dan palama, bukan hanya isinya saja yang beda namun juga cara memasaknya, karena palapa dimasak dengan cara di bakar yang sudah pasti aroma dan rasnya lebih reasa lezat.
Kamu bisa menjadikan palapa ini teman di saat kamu ngobrol atau ngopi, karena selain enak dan lezat, palapa juga bisa menahan perut kamu yang perotes dan demo untuk segera di isi. Sekarang kamu bisa menemukan palapa di luar Provinsi, namun dengan rasa yang sedikit berbeda (mungkin😃)

Milu Siram Khas Sulawesi Tengah

milu siram sulawesi tengah
Sumber : http://www.tokomesin.com/
Milu siram merupakan kuliner yang berbahan utama jagung muda, milu siram dikenal juga dengan nama binte biluhuta dan sup jagung. Kalau kamu lihat di google yang di maksud milu siram adalah binte biluhuta, hal ini berdasarkan adanya wikipedia yang berjudul binte bihuta.
Pada milu siram terdapat beberapa campuran bahan makanan, selain jagung ada juga ikan dan udang yang sudah diolah. Umumnya milu siram memiliki rasa manis, pedan, dan asin, namun kini seiring berjalannya waktu milu siram berkembang dengan dibuktikannya berbagai macam varian rasa yang pastinya dapat menggyang lidah kamu.
Tidak hanya itu milu siram juga di percaya mampu mengancurkan kolesterol jahat pada tubuh manusia, kenapa karena pada jangung itu sendiri kaya akan manfaat yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Jadi buat kamu yang kurang suka dengan jagung cobalah milu siram, karena jagung di hidangkan dalam tampilan yang berbeda.

Tinutuan, Kuliner Khas Sulawesi Tengah

Tinutuan, Kuliner Khas Sulawesi Tengah
Sumber : https://upload.wikimedia.org/
Makanan khas Sulawesi Tengah selanjutnya adalah tinutuan, tinutua tidak hanya popular dan menjadi kuliner khas Sulawesi Tengah, namun juga menjadi Makanan khas Sulawesi Utara, karena tinutuan di kenal juga dengan bubur Manado.
Tinutuan sendiri hampir mirip dengan bubur, hanya saja pada tinutuan terdapat banyak campuran sayur-saturan yang pastinya menyehatkan buat kamu yang mengkonsumsinya. Di Manado sendiri tinutuan biasa dijadikan sebagai sarapan pagi sebelum beraktivitas.
Simpelnya sih, bubur yang menggunakan sayur-sayuran sebagai bumbu atau pengganti daging, kalau di Jawa ada bubur ayam, namun di Sulawesi Tengan dan Utara ada bubur sayur. Gimana tertarik untuk mencobanya?

Saraba Minuman Khas Sulawesi Tengah

Saraba Minuman Khas Sulawesi Tengah
Sumber : https://inspiratifnews.com/

sumber:https://azzamaviero.com/makanan-khas-sulawesi-tengah/

Upacara Tradisional Sulawesi Tengah

1. Suku Bangsa Pamona
  1. Upacara masa hamil (Katiana)
  2. Upacara masa kelahiran dan masa bayi (Moana)
  3. Upacara menjelang masa dewasa (Maasa)
  4. Upacara kematian, terdiri dari:
    • Mompolomoasi Tau Majua Mokoasa
    • Mongkariang
    • Mompemate
    • Mogave
    • Meloa
2. Suku Bangsa Kaili
  1. Upacara masa hamil (Nolama Tai & Novero)
  2. Upacara masa kelahiran dan masa bayi (Nompudu Valaa Mpuse, Nantauraka Ngana, Nosaviraka Ritora, Nokoto/Nosombe Bulua)
  3. Upacara masa kanak-kanak (Nosuna)
  4. Upacara menjelang masa dewasa (Nokeso)
  5. Upacara masa dewasa (Nobau)
  6. Upacara kematian, terdiri dari:
    • Nopamada
    • Molumu (masa persemayaman)
    • Motana Tomate (masa penguburan)
    • Motahalele
    • Moombo Ngapa
    • Motana Bate
3. Suku Bangsa Kulawi
  1. Upacara masa hamil (Halili Bulai)
  2. Upacara masa kelahiran dan masa bayi (Pencorea, Ratoe, Popanaung)
  3. Upacara masa kanak-kanak (Mopahiva)
  4. Upacara menjelang masa dewasa (Ratini, Rakeho, Ratompo, Mancumani)
  5. Upacara kematian
4. Suku Bangsa Dampelas
  1. Upacara masa hamil (Bai Mpole)
  2. Upacara masa kelahiran dan masa bayi (Baratudang & Melongkung)
  3. Upacara menjelang masa dewasa (Molead)
  4. Upacara masa dewasa (Menonto)
  5. Upacara kematian, terdiri dari:
    • Upacara Sebelum Kematian
    • Upacara Saat Kematian
    • Upacara Sebelum Penguburan (Mopohimung)
    • Upacara Saat Penguburan (Hotanong)
    • Upacara Sesudah Penguburan (Tahlil & Takzia)
sumber:http://telukpalu.com/2007/04/upacara-tradisional-sulawesi-tengah/

Kesenian Daerah Sulawesi Tengah

Memiliki banyak alat musik tradisional dan tarian daerah yang menjadi keanekaragaman seni dan budaya di Sulawesi Tengah. Musik tradisional Sulteng memiliki instrumen seperti misalnya suling, gong serta gendang. Ketiga alat musik daerah tersebut berfungsi sebagai alat musik hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan.

Di salah satu daerah beretnis Kaili yaitu di sekitar pantai barat - waino - alat musik tradisional sering juga ditampilkan saat ada upacara kematian. Dan kesenian daerah ini sudah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian.

Salah satu tarian daerah propinsi Sulawesi Tengah yang cukup terkenal bernama Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan kemudian diikuti masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala. Tarian daerah ini khususnya sering ditampilkan saat masyarakat sedang musim panen, kadang juga untuk upacara penyambutan tamu, untuk syukuran serta untuk hari-hari besar tertentu. Tarian Dero merupakan salah satu tarian dimana laki-laki dan perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tapi konon Tarian daerah ini bukan merupakan warisan leluhur setempat tetapi merupakan salah satu kebiasaan selama penjajahan bangsa jepang di Indonesia yaitu ketika terjadi Perang Dunia II.

Beberapa kesenian Sulawesi Tengah :
1.Pakaian Adat Etnis Saluan di Kab. Luwuk
a.Pakaian Adat Perempuan
·                     Blus atau pakaian wanita yang disebut dalarn bahasa Saluan adalah Pakean Nu’boune.
·                     Rok panjang yang disebut dalam bahasa Saluan adalah Rok Mahantan
·                     Perhiasan berbentuk bintang
Assesoris yang digunakan:
- Gelang atau Potto
- Kalung atau Kalong
- Sunting, anting atau Sunting, Jaling
- Selempang atau Salandoeng
Pakaian Adat Laki-laki
·                     Kemeja pria yang disebut dalam bahasa Saluan adalah Pakean Nu’moane
·                     Celana panjang yang disebut dalam bahasa Saluan adalah Koja
·                     Penutup kepala/topi (Sungkup Nu’ubak)
·                     Sarung pelengkap celana panjang (Lipa).
Warna ciri khas : Kuning melambangkan Kayu Ulin.

2.Makam Dato Karama
Situs Cagar Budaya makam Dato Karama adalah sebuah situs Budaya berupa pekuburan tempat di makamkannya seorang tokoh penyebar agama Islam yang pertama di Sulawesi Tengah pada abad17.    Makam ini terletak di Kampung Lere tidak jauh dari Taman Budaya Palu.  Di depan makam ada warung makanan unik ala makassar yang dagingnya serba kuda, ada coto kuda, konro kuda pokoknya serba kuda.    Nama Dato Karama sendiri merupakan gelar yang diberikan oleh khalayak yang artinya seorang dato yang sakti atau keramat.  



3.Musik Etnik Sulawesi Tengah
Instrumen ini dimainkan oleh masyarakat suku Kaili—suku asli di Sulawesi Tengah. Selain di Sulawesi Tengah, instrument ini dapat pula ditemukan di Sulawesi Utara (Bolaang Mongondow), Kalimantan, Sumatra, Maluku, Sabah dan Serawak Malaysia dan Brunai Darussalam. Musik Kakula yang kita kenal sebagai salah satu seni musik tradisional suku Kaili khususnya dan masyarakat Sulawesi Tengah pada umumnya sudah sangat sukar menentukan kapan mulai dikenal oleh masyarakat di daerah ini.
Pada tahun 1618 agama Islam masuk di daerah ini dengan membawa serta pula kebudayaannya. Mengikuti penyebar-penyebar Islam ini sebagai alat pendukung dakwah, mereka membawa serta alat musik yang terbuat dari tembaga/kuningan yang sekarang ini kita kenal dengan Musik Kakula. Alat musik tersebut berbentuk bulat dan pada bagian tengalmya muncul atau munjung, sama dengan bonang di Pulau Jawa.



4.Rumah Adat Sulawesi Tengah
Rumah souraja berbentuk rumah panggung yang ditopang sejumlah tiang segiempat dari kayu; beratap bentuk piramide segitiga: bagian depan dan belakang ditutup dengan papan berukir (panapiri) serta pada ujung bubungan bagian depan dan belakang berhias mahkota berukir (bangko-bangko). Bangunan terbagi atas tiga ruangan, yaitu ruang depan (lonta karawana) untuk menerima tamu dan untuk tidur tamu yang menginap; ruang tengah (lonta tatangana) untuk tamu keluarga; serta ruang belakang (lonta rorana), untuk ruang makan, meskipun kadang-kadang ruang makan berada di lonta tatangana. Tempat tidur perempuan dan anak gadis berada di pojok belakang lonta rorana. Dapur (avu), sumur, dan jamban berada di belakang sebagai bangunan tambahan yang dihubungkan melalui hambate, yang berarti jembatan, ke rumah induk. 



5.Tarian Khas Sulawesi Tengah
Tari Pomonte adalah salah satu tari daerah yang telah merakyat di Provinsi Sulawesi Tengah, yang merupakan simbol dan refleksi gerak dari salah satu kebiasaan gadis-gadis suku Kaili pada zaman dahulu dalam menuai padi, yang mana mayoritas penduduk suku Kaili adalah hidup bertani.